Implementasikan Syariat Islam Dengan Kasih Sayang

Mimbar Jumat

Avertise With Us

ACEHAKTUAL.COM | Banda Aceh : Kasih sayang diantara sesama muslim adalah bagian dari karakteristik atau watak umat Islam. Kasih sayang juga bagian dari akhlak mulia sebagaimana dimiliki dan dicontohkan Rasulullah.

Dengan adanya sifat kasih sayang ini pula akan menimbulkan sikap lemah-lembut, termasuk dalam berdakwah atau amar ma’ruf nahi munkar mengamalkan ajaran agama. Berkat sikap penuh kasih dan kelembutan ini pula, Rasulullah berhasil dalam mengemban risalah Islam yang tersebar ke seluruh penjuru dunia.

ADS | Iklan DI Sini

Karenanya, sifat kasih sayang dan lemah lembut ini juga menjadi salah satu faktor penentu berjalannya penerapan syariat Islam khususnya di wilayah Provinsi Aceh, sementara sebaliknya sifat kasar, membenci, mencemooh dan caci maki hanya akan membuat orang-orang yang selama ini masih kurang senang dengan syariat akan semakin menjauhkan diri untuk penerapan syariat itu sendiri.

Demikian antara lain disampaikan Habib Ibrahim bin Muhammad bin Salim, Pimpinan Majlis Ta’alim Sunnatul Musthafa asal Tareem, Republic of Yaman saat mengisi pengajian rutin Kaukus Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Rabu (28/11/2018) malam.

“Berkasih sayang dan lemah lembut diantara sesama muslim merupakan bentuk ketakwaan kita kepada Allah. Sikap saling menyayangi bahkan bisa menjadi penyebab Allah mencintai diri kita. Sebab, kasih sayang itu termasuk akhlak mulia yang disukai Allah dan merupakan bentuk ibadah kepada-Nya,” ujar Habib Ibrahim yang didampingi penerjemah, Tgk H Muhammad Hatta Lc M.Ed (Pimpinan LPI Dayah Madani Al-Aziziyah Lampeuneureut, Aceh Besar).

Habib Ibrahim menyebutkan, dalam Alquran juga ditegaskan bagaimana menjaga sikap kasih sayang sesama muslim yaitu dalam Surat Ali Imran ayat 159 yang artinya, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Ayat ini turun saat umat Islam kalah dalam Perang Uhud, padahal kaum muslimin sebenarnya telah memenangi perang melawan kaum kafir quraisy. Tapi sebagian Sahabat yaitu para pemanah melanggar perintah Rasulullah dengan turun dari bukit akibat tergiur dengan harta ghanimah yang ditinggalkan kafir quraisy. Lalu kaum kafir melakukan serangan lagi, sehingga kaum muslimin pun kalah dan banyak Sahabat yang syahid, termasuk Rasulullah sendiri patah giginya.

Saat itu, Rasulullah sebenarnya sangat marah karena kepada para Sahabatnya pemanah yang ditugaskan tetap siaga di atas bukit, tapi malah turun mengambil harta musuh. Namun, Allah mengingatkan Rasul-Nya agar tetap bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada para Sahabatnya yang telah melakukan kesalahan fatal yang berujung kekalahan umat Islam.

“Kepada umat Islam yang telah melakukan kesalahan pun tetap diperintahkan untuk memperlakukan mereka dengan kasih sayang, karena sikap kasar dan marah-marah justru akan membuat mereka akan lari menjauh dari perjuangan Islam,” jelas Habib Ibrahim yang pernah menjadi salah satu tenaga pengajar di Darul Musthofa, Yaman.

Menurutnya, begitu juga seharusnya yang perlu kita tiru Rasulullah, khususnya dalam penegakan dan implementasi syariat Islam yang saat ini diterapkan di Provinsi Aceh. Sikap lemah lembut kepada kasih juga harus ditunjukkan kepada satu dua masyarakat muslim daerah ini yang belum sepenuhnya mengikuti aturan syariat.

“Ini merupakan strategi menjalankan syariat Islam di Aceh dengan lemah lembut, dengan terus kita bersikap kasih sayang dan terus menerus mengajak yang makruf dan mencegah yang munkar sesuai yang diajarkan dalam syariat, ini akan membuat simpati dan akan ikut bergabung dalam perjuangan tegaknya aturan Islam di tengah umat,” jelasnya.

Perintah Allah untuk menebarkan kasih sayang berlaku umum bahkan mencakup seorang pelaku kemaksiatan. Kita harus merasa kasihan ketika melihat seserang yang terjerumus dalam kemaksiatan, kasihan kehidupannya yang penuh dengan kegelapan di dunia, terlebih-lebih lagi jika akhirnya sampai membawa kesengsaraan abadi di akhirat kelak.

“Hati kita sesama muslim harus tergerak untuk kasihan dan berdakwah kepadanya dengan penuh lemah lembut. Sungguh disayangkan jika ada orang-orang saleh malah menjauhi mereka para pelaku kemaksiatan, hanya bisa mencemooh tanpa berusaha mendakwahi mereka,” terangnya.

Disebutkan Habib Ibrahim, adanya hukum atau qanun syariat Islam yang berlaku di Aceh bukan untuk menyalahkan umat Islam yang masih melanggar, tapi untuk kemaslahatan umat agar setiap‎ muslim bisa bermuamalah dengan hukum Islam, bukan dengan hukum buatan orang-orang di luar Islam.

‎”Mari kita jaga kemaslahatan dengan qanun hukum syariat. ‎Qanun bukan untuk mendhalimi tapi untuk kemaslahatan. Ini adalah suatu nikmat dan rahmat dari Allah yang sudah ada sepatutnya dijaga, agar Aceh jauh dari maksiat. Sepatutnya kita cintai dan muliakan negeri Aceh agar berkah dengan adanya syariat,” terangnya.

‎Berdoa dan keselamatan untuk negeri Aceh, terus berdakwah menuju kebaikan. Sehingga negeri yang penuh keberkahan ini suatu saat bisa menjadi model‎ untuk dicontoh dalam menjalankan syariat dengan kasih sayang dan penuh kelembutan.

“Maka, tidak sepatutnya sesama muslim saling tuding, memelihara permusuhan, saling membenci, saling mendengki, saling menjatuhkan, dan sejenisnya. Sebaliknya, sesama muslim harus saling menguatkan, mempererat persaudaraan, berkasih sayang, dan bersatu-padu dalam menjalankan risalah Islam dan mendakwahkannya,” katanya.

ADS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here