Umar Rafsanjani : Ada Tiga Syarat Untuk Menjadi Daiilallah

Penulis : Fauzan

Avertise With Us

ACEHAKTUAL.COM I Banda Aceh : Pimpinan Dayah Mini Aceh Gampong Alue Naga, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Tgk. H. Umar Rafsanjani Lc.MA mengatakan  untuk menjadi para da’i ilallah (penyeru menuju jalan Allah) setidaknya ada tiga pra syarat.

Pertama, Ikhlas dan mencari keridhaan Allah Swt, bukan karena sesuatu yang lain, seperti mencari pengaruh atau finansial.

ADS | Iklan DI Sini

Kedua, Berani menyampaikan yang hak. Hal ini penting, selama ini para da’i kita yang berbasis dayah dan juga dari kaum intelektual dayah, masih ragu-ragu menyampaikan apa yang diyakini. Akhirnya, para da’i Wahabi mengambil alih dan mengaburkannya.

Ketiga, Aktual, da’i harus mampu dan bersedia membahas problematika umat. Misal, membahas kesesatan wahaby di mimbar masjid dan majlis pengajian.

Demikian antara lain kata Umar Rafsanjani, saat mengisi pengajian rutin DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) di Rawa Sakti Coffe, Jeulingke, Syiah Kuala, Banda Aceh, Sabtu (29/62019) malam.

Dalam kajian rutin Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) dengan tema “Reformasi Dakwah Kita” Umar juga mengusulkan, Aceh mesti ada lembaga yang menyeleksi dai-dai dari luar Aceh. Sama seperti Malaysia dan beberapa  negara islam di asia mewajibkan penceramah harus bersertifikat Tauliyah dari Jabatan Agama Islam (semacam Kemenag), tidak bisa sembarangan orang datang berdakwah.

“Jika tidak, selama ini kita menguras energi menertipkan dai-dai dari luar yang begitu gampang mengkafirkan moyang orang Aceh. Padahal, jika moyang orang Aceh syirik, moyang orang luar Aceh juga syirik karena Islam di Nusantara berasal dari Aceh.” Ujarnya.

Kemudian Umar Rafsanjani menambahkan, selaku da’i yang lulus kepada tiga katagori tauliyah (Tauliyah mengajarkan Fardhu A’in, Al Quran dan Pendakwah bebas) daripada aturan kerajaan jiran Malaysia.

Hal ini terlihat asaatidz Wahaby di Aceh sering sekali mengutip ayat yang semestinya dialamatkan kepada kaum musyrikin jahiliyah justru dialamatkan kepada Aswaja yang mayoritas di Aceh.

“Pun demikian, kita mesti memperkaya konten dakwah, kurangi mengutip cerita israiliyyat dan nashraniyyat, jika itu bentuk fadhilatul amal minimal hadist dhaif, jangan hadist maudhu’.” papar ketua TASTAFI Banda Aceh.

Dakwah Aswaja harus dibangun semua lini, melalui media, tulisan-tulisan yang bernash, amar makruf nahi mungkar, kajian-kajian ilmiah dan juga pergerakan-pergerakan jika diperlukan.

Sebagamana firman Allah Swt;

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah 35), kutip Umar yang juga pimpinan Dayah Mini Aceh yang beralamat di

Jl. Tengku Meurah, Alue Naga, Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.

Pengajian rutin ISAD yang dimoderatori oleh Tgk Bustamam Usman, MA juga diisi oleh Tgk H Usamah Elmadny, S.Ag. MM dan diikuti oleh puluhan para sarjana strata satu sampai strata tiga alumni dayah Aceh, aktifis lintas ormas berbasis dayah. juga turut dihadiri Teuku Farhan, direktur MIT Aceh, Tgk Jamaluddin Thaib dan Ketua STAI Tengku Chik Pante Kulu, Yusuf Qardhawi.

ADS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here