Dana Hibah Kadin Aceh Menuai Kritikan, Angkanya Capai Rp. 2 Milyar Lebih.

redaksi

Avertise With Us

ACEHAKTUAL.COM I Banda Aceh – Alokasi anggaran untuk Kadin Aceh yang di plot oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Acehmendapat kritikan dari berbagai kalangan karena di nilai tidak tepat sasaran.

Sejumlah pengguna media sosial, FB dan Grop WA menjadi pembicaraan hangat, mereka menanyakan alasan Kadin Aceh meminta dana tersebut ke pemerintah padahal mereka adalah pengusaha.

ADS | Iklan DI Sini

Koordinator Gerak Aceh, Askalani,  menilai anggaran itu cacat hukum. Untuk anggaran KADIN jelas tidak dibenarkan, karena KADIN itu bukan lembaga struktural organisasi pemerintahan.

“Dia sama sekali tidak memiliki hirarki dari sudut tata organisasi daerah manapun jadi pemberian anggaran tersebut berpotensi menimbulkan celah adanya pelanggaran hukum terencana,” tulis Askalani, Rabu (13/11/2019)

Dikatakan Asklani, bila merujuk pada Pasal 6 ayat (5) Permendagri menyebutkan, Hibah kepada badan dan lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf d diberikan kepada:

Badan dan lembaga yang bersifat nirlaba, sukarela dan sosial yang dibentuk berdasarkan peraturan perundang-undangan; Badan dan lembaga nirlaba, sukarela dan sosial yang telah memiliki surat keterangan terdaftar yang diterbitkan oleh Menteri, Gubernur atau Bupati/Wali Kota;

Badan dan lembaga nirlaba, sukarela bersifat sosial kemasyarakatan berupa kelompok masyarakat/kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat, dan keberadaannya diakui oleh pemerintah pusat dan/atau Pemerintah Daerah melalui pengesahan atau penetapan dari pimpinan instansi vertikal atau kepala satuan kerja perangkat daerah terkait sesuai dengan kewenangannya; dan Koperasi yang didirikan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya.

“Nah, jika melihat dari nomenklatur dan tata organisasi maka Kadin itu bukan bagian yang berhak mendapatkan anggaran secara terus menerus, dan ini menunjukkan bahwa proses pemberian anggaran ini memiliki hubungan conflik of interes dan dapat dipastikan adalah bagian dari barter politik anggaran antara pemerintah Aceh dengan pengusaha,” ungkap Askalani.

Merujuk pada kebutuhan hibah dan bansos, kata Askalani, sifatnya harus berpedoman untuk efektivitas, efisiensi dan akuntabilitas pengelolaan belanja hibah dan bantuan sosial yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 123 Tahun 2018 tentang Perubahan Keempat Atas Permendagri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bantuan Sosial yang Bersumber dari APBD.

Oleh karena itu, GeRAK Aceh secara resmi besok pagi akan mengirimkan surat kepada KPK-RI.

“Pengusulan anggaran Kadin adalah ilegal dan memiliki hubungan kolerasi politik kepentingan, kami melihat bahwa ini adalah bagian dari barter politik anggaran yang dimainkan untuk kepentingan segelintir pengusaha, dan apalagi dari mata anggaran yang ada menunjukkan bahwa adanya potensi setting dalam pengadaan barang dan jasa untuk memenangkan kandidat atau (perusahaan) tertentu dalam memenangkan tender proyek yang dilakukan,” demikian Askalani.

ADS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here