Nelayan Di Minta Pertahankan Tradisi “khanduri laot”

Penulis : Fauzan

0
101
Bupati Aceh Besar, Ir Mawardi Ali memberikan santunan anak yatim yang diterima imuem mukim setempat pada acara Khanduri Laot di Lhok Kuala Gieging, Lambada Lhok Kecamatan Baitussalam, Sabtu (31/3/2018). ( Foto : Humas Pemkab Aceh Besar)
ADS_Area

ACEHAKTUAL.COM| Aceh Besar : Bupati Aceh Besar, Ir Mawardi Ali mengajak para nelayan untuk terus mempertahankan tradisi khanduri laot sebagai salah satu identitas diri masyarakat pesisir yang kental dengan nilai-nilai adat dan budaya lokal.

Permintaan Bupati Aceh Besar Ir Mawardi Ali tersebut disampaikan dalam sambutan acara Khanduri Laot di Lhok Kuala Gieging, Lambada Lhok Kecamatan Baitussalam, Sabtu (31/3/2018) bersama ratusan keluarga nelayan setempat. Hadir juga Sekdakab Aceh Besar Drs Iskandar MSi, anggota DPRK Muchlis Zulkifli ST, Kadis Perikanan dan Kelautan Agus Husni SP dan anggota DPRA Sulaiman Ali.

ADS_IMAGE

Menurut Bupati Mawardi Ali, makna khanduri sangat luas dan khanduri laot ini merupakan salah satu wujud rasa syukur para nelayan kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan nikmatNya, terutama dalam manfaat hasil sumber daya laut dan hasil tangkapan

“Para panglima Laot kami himbau agar Khanduri Laot seperti ini tetap di selenggarakan Insya Allah pemerintah daerah akan bantu, ini merupakan adat yang harus kita jaga maka dari itu saya harap panglima laot terus mengagendakan Khanduri Laot,”harap Mawardi.

Selain itu, kata Mawardi, khanduri laut ini juga merupakan sebagai momentum dimana sesuai dengan motto Aceh Besar “putoh ngen mufakat kuat dengan meuseuraya”, artinya semua keputusan itu adalah hasil bermusyawarah dan meuseuraya adalah sebagai bentuk kebersamaan yaitu silaturahmi salah satunya adalah khanduri. 

“Maka dari itu lah Khanduri Laot penting untuk dilaksanakan sebagai bentuk pelestarian budaya dan sebagian bentuk rasa syukur kita semua,” tuturnya.

Ketua panitia Kenduri Laot, Firmansyah, menuturkan rasa syukur yang sebesar-besarnya atas kehadiran bupati beserta seluruh para pemangku adat pada khanduri laut yang diselenggarakan secara swadaya masyarakat.

“Selain makan hidangan khanduri acara ini juga di isi dengan tari rapa’i geleng dan santunan anak yatim dan ini merupakan satu ungkapan syukur kami atas limpahan rezeki pada kami selaku para nelayan dan semoga dengan syukuran ini rezeki para nelayan terus meningkat,” katanya.

Sedangkan Miftahudin “Cut Adek” yang mewakili panglima laot Kuala Giging menjelaskan bagaimana perkembangan kondisi ekonomi masyarakat Kuala Giging, sebenarnya potensi Aceh Besar sangat besar namun kurangnya anggaran sehingga saat ini kondisi kita sedikit tertinggal dari kabupaten lain. 

“Potensi kita luar biasa, banyak orang yang mengambil ikan tuna di sini tapi sayangnya kita belum mampu memanfaatkan kesempatan ini karena kurang fasilitas,”.ujarnya.

Pasca tsunami 2004 lalu, kata Cut Adek, Kuala Giging ini mengering sehingga boat-boat besar tidak bisa bersandar disini, kebanyakan boat-boat besar itu bersandar di Lampulo. 

“Ini sebenarnya masalah yang harus diperhatikan. khususnya untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Kami berharap para pihak terkait memperhatikan sehingga masalah ini teratasi,” harap Cut Adek

 

ADS_IMAGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here