Merajut “AKSI” Dua Puluh Tahun Reformasi

Penulis : Hasrizal; Wakil Sekretaris PAHAM Aceh

0
120
Hasrizal, Wakil Sekretaris PAHAM Aceh
ADS_Area

20 tahun reformasi, Pertanyaan yang masih terlintas di pikiran kita saat ini. Pernahkan terfikir mengapa Mahasiswa dan Pemuda yang dengan gemilang menyingkirkan rezim Soeharto, lalu tidak menghasilkan tokoh politik nasional. Padahal merekalah yang memberikan kepemimpinan dan energi dalam setiap perubahan penting disepanjang sejarah Indonesia, serta tampil menjadi tokoh politik nasional. Lalu Mengapa itu tidak dilakukan.

Apa yang terjadi sebenarnya dengan gerakan mahasiswa atau pemuda ini di era reformasi. Dimana Gerakan mahasiswa bersama rakyat yang telah berhasil melengserkan Soeharto setelah 32 tahun memimpin pada mei 1998, tidak mampu turut menyingkirkan orang-orang dalam lingkaran orba. Gerakan itu tidak menghasilkan tokoh populis yang menuntun agenda besar revolusi nasional bersama rakyat. Akibatnya gerakan mobilisasi massa yang begitu besar, yang telah dibangun lama dibajak oleh tokoh konservatif yang masih dalam lingkaran orba pada detik-detik terakhir. Sehingga agenda reformasi tak mampu mendorong perubahan besar, karena kroni-kroni orba masih tetap bergentayangan di pusat-pusat pengambilan keputusan.

ADS_IMAGE

Di era 20 tahun reformasi ini, banyak sekali kegundahan rakyat terhadap aktivisme gerakan Mahasiswa. Mitos mahasiswa sebagai agent of change menjauh dari realita yang ada. Para mahasiswa lebih senang dan bangga jadi juru keplok (tepuk tangan) di acara-acara TV atau duduk manis di café, warkop atau di tempat nongkong modern yang begitu gemerlap dan jauh dari kesulitan hidup rakyat kecil. Di sana mereka dapat leluasa berbicara tentang artis idola, film populer serta trend atau mode pakaian terbaru, dan tak lupa mencibir setiap kali ada demo yang memacetkan jalan atau tak terima ketika upah buruh naik yang membuat para buruh dapat hidup layak.

Problematika tersebut bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Tetapi tak dapat dilepaskan pada akar sejarah. Banyak pengamat menganggap hal ini adalah buah dari neoliberalisme yang menyebabkan terjadinya komersialisasi pendidikan atau analisa budaya yang melihat karena pengaruh habitus.

Namun analisa tersebut mengandaikan mahasiswa sebagai makhluk yang tak bergerak yang dapat disetir kesana kemari. Padahal mahasiswa adalah manusia yang berfikir, berhasrat dan bergerak. Itu adalah faktor eksternal sedangkan faktor internal adalah tentang dinamika gerakan di tubuh organisasi mahasiswa ini.

Merajut AKSI (Attitude, Knowladge, Skills, Insight)

Satu Kata, Empat Huruf ini yang Menjadi Inspirasi Bagi Saya, yang seyogyanya Dapat kita Pedomani bagi diri kita, khususnya Generasi Muda dan Mahasiswa di Era saat ini. Para mahasiswa dan Pemuda, semestinya tidak hanya mencukupkan dirinya sebagai agen perubahan, tapi sudah semestinya menaikkan jenjang sebagai direktur perubahan. Transformasi semacam itu tentu saja beralasan, misalnya, pemuda memiliki beragam potensi seperti kekuatan (fisik) yang mapan, kecerdasan (fikir) yang tajam, kecepatan belajar dan adaptasi serta sebagai bahan dasar akselerasi perubahan. Tentunya juga diiringi dengan meningkatkan kapasitas diri; baik yang bersifat individu ataupun yang bersifat kolektif.

Pertama Attitude (Sikap) Mahasiswa dan Pemuda mempunyai hak dan kewajiban sejarah untuk merespon berbagai kondisi bangsa dan negara dengan langkah nyata (attitude). Itu bermakna, pemuda tidak elegan menyerahkan sepenuhnya masa depan bangsa dan negara ini hanya pada pengelola negara atau pemerintah semata. Sebagai aktor perubahan, pemuda memiliki peranan penting dalam tataran kekuatan politik arus bawah terutama dalam melakukan kontrol publik terhadap kebijakan pemerintah.

Kritik kepada pemuda, terutama aktivis mahasiswa saat ini adalah seolah-olah mereka vakum dan terdiam atas berbagai masalah yang dihadapi bangsa dan negara. Wajar banyak kalangan dan pengamat mengatakan saat ini gerakan mahasiswa atau pemuda pasca reformasi hanya menjadi penonton, bukan penentu. Kritik semacam itu mesti dijawab oleh para pemuda dengan menghadirkan dirinya dalam proses pembangunan bangsa dan negara. Pemuda mesti hadir sebagai sosok warga negara yang berjiwa negarawan, yang siap dan bersedia berkontribusi nyata, bukan penonton semata.

Selanjutnya yang kedua adalah Knowladge (Pengetahuan). Pada dasarnya sikap berpikir kritis merupakan suatu sikap yang dimiliki oleh pribadi itu sendiri, namun budaya berpikir kritis dapat diterapkan oleh seorang mahasiswa dan pemuda, dengan cara mencari informasi dan berita yang aktual, benar dan sesuai dengan pernyataan aslinya. Sikap berpikir kritis dapat diterapkan oleh seorang mahasiswa dengan banyak membaca dan menulis, membaca adalah Gudang ilmu, jendela ilmu, dan mengatasi kebodohan. Mahasiswa yang rajin membaca, mencari referensi dan berita yang akurat, akan menjadikan ia mempunyai sikap berpikir kritis dan peka terhadap permasalahan sosial baik permasalahan dalam negara Indonesia maupun permasalahan Global (Dunia).

Lalu yang ketiga Skills (Keterampilan). Dalam konteks itu, sebagaimana yang pernah disinggung oleh Rhenald Kasali, pemuda mesti memiliki beberapa hal penting, pertama, visi tentang arah masa depan. Kedua, keterampilan (skill) untuk mampu melakukan tuntutan-tuntutan baru. Ketiga, sumberdaya atau kompetensi sehingga bisa memudahkan ruang gerak dan pertumbuhan. Keempat, rencana atau action plan (Rhenald Kasali, 2010).
Skill merupakan kualitas yang dibutuhkan dalam beberapa hal tertentu yang tidak berdasarkan pada kemampuan pengetahuan. Kemampuan ini meliputi pola pikir, kemampuan negosiasi, dan sikap yang lentur secara positif. Kemampuan ini akan sangat bermanfaat dalam dunia kerja maupun dalam interaksi sosial pada umumnya.

Keempat Insight(Wawasan). Sudah seyogyanya mahasiswa dan pemuda memili wawasan yang luas guna menyelesaikan permasalahan serta memberi solusi terhadapa segala permasalahan yang ada di masyarakat. Semangat itulah, yang hendaknya dapat kita miliki dan kita amalkan guna menyongsong era keemasan indonesia di masa mendatang. Selamat 20 Tahun Reformasi

ADS_IMAGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here