Politik Incumbent AKP Turki dan Korelasinya Dengan Pemilu Indonesia

Opini Oleh : Agus Fajri

0
132
ADS_Area

WWW.ACEHAKTUAL.COM | Banda Aceh : Partai Politik berkuasa di Turki mengalami kekalahan di dua kota besar. Pertama di Ankara, dan kedua di Istanbul. Hal ini menuai respon dari sebagian politisi partai islam dalam negeri. Pertanyaan yang muncul adalah terkait kenapa partai AKP (Incumbent) menuai kekalahan dalam Pilkada.

Mari kita menganalisa apa yang terjadi disana. Sehingga menjadi terang-benderang kenapa AKP yang mulai kuat di Turki, tiba-tiba melemah. Jika ditelisik, sebagai partai pemerintah, seharusnya mudah bagi mereka untuk memenangi Pemilihan Kepada Daerah. Lantas yang terjadi malah mereka harus merelakan kota besar dikuasai oleh lawan politiknya.

ADS_IMAGE

Pertama mari kita lihat kondisi politik Turki selama sepuluh tahun terakhir. Sosok Erdogan menjadi kekuatan sentral partai pemerintah. Tidak ada tokoh baru yang muncul, dari kalangan seangkatan maupun yang lebih muda. Artinya partai ini seperti kehabisan tokoh yang layak untuk dijual kepada para konstituen. Bahkan meski dari partai yang sama, ksan yang ditimbulkan perdana menteri tidak seperti saat sang presiden sekarang menjabatnya.

Lalu apa hubungannya dengan Pilkada Turki. Erdogan telah dua periode menjadi perdana menteri dan juga presiden. Bahkan kondisi teranyar adalah perubahan konstitusi guna mengukuhkan kedudukan presiden sekarang. Kesan melakukan segala daya upaya, bahkan sampai berubah haluan politik. AKP selama ini berpolitik dengan gaya politik lunak, berubah haluan menjadi beraliran politik yang agak kasar. perubahan ini menjadi faktor kedua yang menyebabkan orang Turki menjadi khawatir.

Harus kita pahami bahwa Turki adalah negara dengan penduduk yang berpemikiran bebas. Ada percampuran antara Islam, liberal (sekuler) dan juga sosialis (komunis) sehingga menjadi sebuah bangsa yang mejemuk secara Ideologi. Huntington dalam Buku Benturan antar peradaban (Judul asli : The Clash Of Civilisation) menerangkan bahwa Ideologi-ideologi ini selalu dalam keadaan Clash (Berbenturan) dan ingin mendominasi satu sama lain.

Perbenturan ini, mengakibatkan kepada penyebab yang ketiga. Keinginan agar pemikiran masing-masing menjadi yang mendominasi Turki. Puncak dari dominasi atas pemikiran lain adalah ketika berbicara siapa yang sekarang memerintah pada puncak tertinggi. Masalah utamanya adalah AKP sudah terlalu kuat di pemerintahan. Bahkan dapat dinilai sampai pada tahap rakyat mulai dilemahkan. Upaya melalui perubahan konstitusi adalah bukti konkrit.

Keempat penduduk Turki adalah penduduk negara maju yang enggan negaranya mundur ke belakang. Hidup di era bebas dan demokratis menyebabkan ketidak-sukaan terhadap pemerintahan dengan gaya yang totalitas (absolut) atau mengarah kepada otoritarian. Kekuatan yang ditunjukkan oleh kebijakan Erdogan dan AKP semakin mengarah kepada hal yang tidak akan disukai oleh orang Turki.

Kejenuhan dan ketakutan ini akan membuat nilai elektabilitas AKP dan tokohnya menjadi lemah. Ketidak inginan orang Turki untuk hidup dalam bayang-bayang pengekangan secara politik dimanfaatkan oleh lawan politiknya untuk naik keatas.

Korelasi dengan Pemilu Indonesia

Apa kesamaan antara Pilkada Turki dengan Indonesia. Jawabannya ada pada tingkat kejenuhan dan kekhawatiran. Pembicaraan orang-orang yang jenuh dengan kondisi yang semakin jauh dari kesejahteraan. Kemudian kekhawatiran soal kebebsasan berpendapat yang tampak semakin dikekang. Kebijakan penangkapan para tokoh oposisi atau dari kalangan informal leader yang cenderung mengkritik pemerintahan.

Hal yang demikian itu akan membuat elektabilitas petahana menjadi tergerus. Kebijakan mendiamkan lawan, malah dapat menjadi bumerang di masa depan. Alasan kenapa adalah karena dunia teknologi informasi sekarang yang sangat mudah diakses. Kabar dan berita mengalir cepat tanpa bisa di bendung.

Dapat diartikan terjadi kesamaan pola, dimana politik lunak menjadi agak lebih keras. Kecenderungan sikap resisten juga dapat diprediksi akan diperlihatkan oleh sebagian kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini telah terbukti dari Reformasi 1998 yang merupakan perwujudan reaksi terhadap masalah yang serupa. Tentu ini akan menguntungkan pihak oposisi. Meski berapa pada skala yang berbeda, namun pergulatan sosial dan politiknya berada pada tataran isu yang sama. Masalahnya masyarakat modern sudah Jenuh dengan kondisi politik dan khawatir dengan kepemimpinan yang akan menuju arah yang salah. Wallahualam.

ADS_IMAGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here