Para “Pahlawan” Kesiangan di RSUZA

redaksi

0
131
Tgk. Mustafa Husen Woyla
ADS_Area

Banda Aceh – Kali ini bukan masalah Wahabisasi yang sudak fix dilakukan oleh para oknum pembesar rumah sakit rsudza yang berplat merah itu, tapi masalah layanan poliklinik pasien rawat jalan. 

Begini ceritanya, hasil diskusi ringan saya bersama beberapa pasien dan keluarga pendamping, pada tanggal, 1 Juli 2019, siang.

ADS_IMAGE

Setidaknya ada beberapa hal yang saya dapat dari diskusi itu.

Sekarang, mesti berangkat pagi-pagi buta untuk dapat lebih awal berobat rawat jalan ke poliklinik rumah sakit pemerintah yang sudah berhasil meraih akreditasi tertinggi dengan predikat Paripurna Versi 2012.

Berikut bukti print out nomor antrian tanggal 1 Juli 2019 beserta jam-nya.

©️Nomor : 54  pukul 05.15 : 20

©️Nomor : 88 pukul 05 : 36 :19

©️Nomor : 189 pukul 07:11: 30

©️Nomor : 320 pukul 08 :12 : 28

©️Nomor : 449 pukul 09 : 16: 03

Kemarin (1/7), Kami datang tepat jam 08.00 WIB, dapat nomor  320, print out pukul 08 : 12 : 28 WIB.

Sekira 45 menit menunggu dipanggil, tiba-tiba ada orang menawarkan nomor antrian 189.

Kemudian selang beberapa menit ada lagi “pahlawan” yang tawar jasa “baik” kasih nomor antrian 88.

Akhirnya, karena sesudah dapat beberapa nomor angka kecil. Saya juga sok jadi pahlawan, saya kasih ke orang di samping yang bernomor antrian 449. 

Ohya, perlu dijelaskan.

Ketika mengkritik pelayanan publik seperti ini, ada segilintir orang berseloroh, “alah ata pree pih, peu jai that proteh”. Padahal dia tidak mengerti sejauh mana pelayan prima di RS setara bintang lima itu.

Tentu hak pasien disini lebih  nyaman berbanding RS kelas di bawahnya. Jadi, bukan pada soal gratis atau tidak, gratis dari kita. Tapi itu disubsidi oleh pemerintah melalui bermacam fariasi kartu jaminan kesehatan.

Saran dan masukan

Untuk lebih tertib, mohon jangan diarah kami berjibaku berburu nomor antrian pada subuh buta dan mengambil seabrek nomor antrian agar nanti jadi pahlawan kesiangan. 

Cukup perketat penjagaan mesin antrian seperti dulu. Tidak dioperasikan tanpa pengawasan di luar jam kerja, sehingga nomor antrian tidak lebih setengah ribu. Karena memang terbukti di jam 10.00 WIB sudah mulai longgar, dan banyak nomor terbuang sia-sia, sehingga yang tidak paham terpaksa menunggu dalam waktu lama.

Bahkan, ada dari daerah yang pulang karena tidak sangup menunggu nomor antrian terlalu jauh.

Jadi, cukuplah petugas resmi yg jadi “pahlawan” kami. Bukan pahlawan kesiangan itu yang merusak kenyaman para pasien.

Dan akhirnya, ribuan terima kasih yang tak terhingga atas pelayanan prima yang selama ini telah diberikan oleh para dokter “sunnah” atau  dokter non sunnah. 

Penulis : Tgk. Mustafa Husen Woyla “Pengamat Bumoe Singet dari Woyla”

ADS_IMAGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here