Pemuda Harus Jadi Penggerak Dakwah

redaksi

0
36
ADS_Area

ACEHAKTUAL.COM I Banda Aceh – Sejarah masa lalu telah membuktikan bahwa pemuda menempati bagian penting dalam menegakkan agama,

meneruskan perjuangan dan tanggungjawab mewujudkan transformasi nilai-nilai Islam dalam semua aspek kehidupan.

ADS_IMAGE

Pemuda harus mampu menggerakkan dan mengarahkan roda-roda dakwah, memperkuat implementasi nilai- nilai syariat Islam di Aceh. Harus mampu menjadi motor penggerak mengajak rekan-rekan mereka yang hari ini sebagian besar masih menghabiskan waktu dengan kegiatan tidak bermanfaatkan di warung kopi. 

Demikian disampaikan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Ustadz Farid Nyak Umar, ST saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Lambada Kupi, Gampong Pineung, Banda Aceh, Selasa  (4/2/2020) malam.

“Ketika yang orang tua sudah habis masa pengadian, maka estafet dilanjutkan yang muda. 

Sebagai generasi pembaharu, anak muda harus ikut mengambil bagian untuk kebaikan umat, menggerakkan dakwah, dan memperkuat syariat. Bagaikan nakhoda, membawa perahu dengan penumpang selamat ke tujuan,” ujar Ustadz Farid Nyak Umar pada pengajian KWPSI yang dipandu Ketua Gerakan Imam Milenial (GIM) Aceh, Dosi Elfian.

Dalam konteks Banda Aceh, kata Farid, yang harus dilakukan oleh generasi muda muslim yaitu memperkuat aqidah, memperdalam kajian keislaman dan menguasai ilmu umum. Kemudian menyebarkan dakwah, melalui ceramah-ceramah di masjid maupun melakukan dakwah dengan media sosial, dakwah dengan menulis, seperti jurnalis yang tergabung dalam KWPSI.

“Pemuda juga harus ikut dalam gerakan shalat berjamaah, utamanya subuh berjamaah, membiasakan baca Alquran dan sedekah semampunya, serta beragam pengamalan ibadah lainnya. Bagaimana pemuda terus merintis proyek kebaikan, sehingga seterusnya kebaikan itu bisa kita petik hasilnya sebagai amal jariyah,” ungkapnya.

Farid juga menyampaikan beberapa problematika anak muda di Kota Banda Aceh saat ini. Seperti rendahnya pemahaman anak muda terhadap ilmu agama sehingga berdampak kurangnya pengamalan. 

Karena tidak paham, akhirnya tidak mengamalkan, dan kalaupun mengamalkan, biasanya karena ikut – ikutan.

“Jadi, bagaimana seharusnya anak muda? Ya, harus memahami Islam dengan baik dan benar. Seperti mengerjakan sebuah amal, Shalat Dhuha misalnya, mengapa mengerjakan, maka terlebih dahulu harus paham fadhilahnya, dan lainnya,” terang Farid yang sering berdakwah lewat mimbar jum’at ini.

Namun di balik itu, ada beberapa persoalan serius yang masih menghinggapi pemuda. Seperti kemerosotan atau degradasi moral dan narkoba.

“Tantangan kaum muda yang paling berat yaitu pendangkalan akidah, narkoba, degradasi moral dan pergaulan bebas. Ini tantangan berat yang harus mampu dijawab oleh semua kalangan karena masa depan ada di tangan kaum muda,” sebut Farid.

Maka itulah sangat diharapkan para pemuda menjadi pembaharu dan nahkoda, memimpin para pemuda lainnya agar selamat tiba di tujuan.

“Bahkan ketiga di suatu gampong ada anak muda yang potensial sudah terjebak dengan narkoba, sudah terjebak dengan pergaulan bebas, maka pemuda harus tampil ibarat nahkoda,” jelasnya.

Pemuda harus yakin dakwah itu banyak tantangannya jika melihat perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW kerap diteror, pernah diasingkan, bahkan sampai hendak dibunuh. 

“Karena karakteristik dakwah banyak tantangan dan panjang jalannya. Jangan berharap tanam hari ini, petik hasil besok, dan jangan lupa, dakwah itu banyak musuhnya, banyak orang tidak senang,” ucapnya.

Dalam pengajian ini, Ustadz Farid Nyak Umar juga mengulas kisah para pemuda dalam Alquran seperti pemuda Ashabul Kahfi, kisah Imam Syafi’i yang telah hafal Alquran di usia muda. Kisah Usamah bin Ziad, Muhammad Al Fatih, Ibnu Sina dan sebagainya.

“Mereka generasi terbaik yang memberikan kontribusi besar kepada Islam di usia belia. Generasi muda Aceh sudah seharusnya menjadikan generasi terbaik dalam sejarah Islam sebagai teladan,” sebut Farid.

Ketua DPRK Banda Aceh ini juga mendesak pemerintah melihat dan menggali potensi pemuda dimana mereka sangat dekat dengan dengan media sosial, maka mereka harus diajak melakukan dakwah melalui media sosial dengan memanfaatkan kemajuan teknologi.

Sejauh ini, Pemko Banda Aceh telah membuka ruang itu selebar – lebarnya. Sehingga berbuah penghargaan sebagai Kota Layak Pemuda, meskipun sejauh ini belum punya qanun tentang pemuda. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi dewan bersama pemerintah untuk melahirkan regulasi tentang kepemudaan.

Terkait peran serta pemuda di pemerintahan, Farid mengakui belakangan ini semakin banyak anak-anak muda menduduki jabatan strategis, termasuk camat, sekarang banyak diisi anak muda berusia di bawah dirinya.

“Saat ini, usia di bawah 40 tahun sudah banyak yang menjadi camat dan kepala dinas. Memang harus diberi kesempatan kepada anak muda untuk mengembangkan bakat dan kreatifitas,” pungkasnya. [*]

ADS_IMAGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here