Barcelona, FC dan Abulyatama Aceh, FC

Juanda DJamal

0
792
Foto ; istimewa
ADS_Area

 

Juanda Djamal

Sepakbola menjadi olahraga yang digandrungi oleh rakyat Aceh dan dunia, sepakbola menjadi olahraga tanpa kelas, mereka berbaur dalam satu dukungan terhadap bomber dan kesebelasan yang didukungnya.

Meskipun dalam 20 tahun terakhir menjadi industri olah raga sehingga stadion yang dibangun dibagikan dalam beberapa kelas fasilitas dan meskipun kapitalisasi sepakbola telah menguatkan kembali kelas sosial, akan tetapi sepakbola tetap menjadi media kemanusiaan, kebudayaan, persahabatan dan persaudaraan global, serta bahkan menegaskan identitas dalam menyatukan bangsa.
Bangsa Catalonia di Spanyol, memiliki club papan atas dunia,

ADS_IMAGE

Barcelona FC, seluruh rakyat Catalonia menjadi pendukung. Klub dengan sejarah yang panjang tersebut dibangun dari sepakbola jalanan oleh Joan Gamper (1877-1930), pria dengan nama asli Hans-Mark Kamper, tulang punggung tumbuh dan berkembangnya Barcelona FC.

Gamper adalah seorang pemecah rekor lari 800 dan 1.600 meter, atlet balap sepeda, penggawa tim rugby Athletique Union, maniak tenis, jurnalis sepakbola kondang, akuntan, hingga pebisnis andal. Namun di mata orang Katalunya sederet gelar di atas tak penting-penting amat. Bagi mereka, hanya ada satu cara untuk melabeli Gamper: sebagai padre fudrador alias ayah dari klub Barcelona FC. Andil Gamper terhadap Blaugrana teramat besar. Dia adalah pendiri, investor, mantan pemain sekaligus kapten, dan eks presiden klub (tirto.id).

Jimmy Burns dalam Barca: A People’s Passion (1999) mencatat perjalanan panjang Gamper bermula pada 1898 ketika pindah dari Swiss ke Katalunya untuk membantu bisnis pamannya, Emili Gaissert. Suatu hari Gamper berpapasan dengan sekelompok anak muda yang menendang-nendang bola lusuh di kawasan Sarria, hanya beberapa ratus meter dari kantornya. Berbekal dua bola hadiah dari ayahnya, Gamper ikut bermain dengan para anak muda tersebut.

Jika di Barcelona ada Gamper maka di Aceh ada sosok Rusli Bintang (RB), pria yang dikenal dengan ayah aneuk yatim, father of orphans, di Aceh karena beliau sudah memberi perhatiannya bagi kehidupan anak yatim sejak 40 tahun yang lalu. Selanjutnya, beliau berharap anak-anak muda dari keluarga yatim maupun piatu, serta keluarga yang kurang mampu juga memiliki kemampuan dan skill bola sepak karena sepakbola dapat mempersatukan mereka, maka di tahun 1989 membentuk klub Persatuan Sepakbola Abulyatama Aceh (PSAA).

Beliau mampu mempertemukan anak muda dari seluruh Aceh, Sabang, Aceh Rayeuk, Pidie, Lhokseumawe, Langsa, dan bahkan Singkil dan Simeulue.

Klub senior Aceh, Persiraja, menjadi mitra yang saling mendukung, talenta-talenta muda yang digembeleng di Lampoh Keude Peukan Ateuk disupply menjadi pemain inti Persiraja, misalnya Tarmilizi Rasyid, Ngoh Lem, Dahlan, Kurniawan, dan masih banyak lagi deretan pemain Abulyatama menjadi ujung tombak pemain Persiraja. PSAA langsung tampil dan menjuarai Piala presiden pertama tahun 1992.

“Bapak Rudi Supriatna ketika itu langsung meminta Sembilan pemain inti PSAA memperkuat Persiraja agar lolos ke divisi utama”, kata Rusli Bintang

Lantas, apa hubungannya Barcelona dengan Abulyatama, keduanya memiliki semangat untuk mengarahkan kreatifitas anak muda dijalanan (kawasan Sarria) untuk menjadi pemain bola professional, sedangkan Abulyatama mengarahkan anak-anak muda dari kalangan keluarga yatim dan kurang mampu agar menjadi pemain bola professional.

Menurut salah seorang warga Lampoh keude, dia mengisahkan romantismenya, kalau pemain muda PSAA sering menyambangi rumah untuk makan jambu air. Bayangka ya, sambungnya lagi, ibunda dari salah seorang bomber PSAA datang dan berjumpa dengan ayah Rusli dengan berlinang air mata mengucapkan terima kasih karena mengambil anaknya yang keras kepala dikampung, selalu buat masalah, namun ketika bergabung dengan PSAA dia sudah shalat berjamaah lima waktu, mengaji dan sekolah.

Ada semangat yang sama diantara kedua Barcelona dan Abulyatama Aceh, dalam pendirian klub keduanya juga mengalami jatuh bangun. Salah satunya, perang saudara yang panjang di Spanyol, orang-orang Catalonia lebih suka diskusi politik dibandingkan Sepakbola. Tentunya hal yang sama juga berlaku di Aceh, perang yang panjang ikut membawa persebakbolaan Aceh, jatuh dan bangkit.

Abulyatama Aceh reborn

Lima belas tahun setelah damai, Abulayatama Aceh FC kembali bangkit, persiapan dilakukan cepat, pengurus baru dibentuk dan pemain inti sedang disiapkan. Salah satunya dengan menggelar kompetisi PSAA di lapangan Karya Utama Lamreung, Aceh Besar.

Klub-klub di Banda Aceh dan Aceh Besar dijemput untuk menampilkan pemain-pemain mudanya (U-22). Setidaknya tercatat 20 kecamatan mendaftar, ditengah pandemi Corona yang tak berujung, kecamtan-kecamatan di Aceh Rayeuk (Banda Aceh dan Aceh Besar) penuh semangat menyeleksi dan mempersiapkan tim kesayangan daerah mereka masing-masing. Suasana anak muda bangkit, terutama beberapa kecamatan yang selama ini melahirkan pemain-pemain handal, dan bahkan yang tadinya kecamatan tidak diperhitungkan pun, tumbuh dan bangkit mempersiapkan klub mereka.

Aceh rayeuk bergemuruh oleh talenta muda yang akan menjadi pesepakbola Aceh kedepannya, Kecamatan Sukamakmur-Sibreh, Indrapuri, Ulee Kareng, Kuta cot Glie, Jantho, Montasik, Lembah Seulawah, Banda Raya, Kutabaro, Lhoong, dan klub lainnya berjibaku dengan semangat Fair Play.

“Kompetisi ini bukan hanya ajang memperebutkan juara, namun tumjukkan juga kemampuan dan skill pemain karena kompetisi ini juga ajang untuk menjaring calon-calon pemain inti Abulyatama Aceh FC, “ kata bang Saifudin, ketua panitia saat pembukaan kompetisi.

Harapan Haji Rusli Bintang,” pemain-pemain Abulyatama Aceh juga difasilitasi untuk menimba ilmu agama dan kuliah disampin bermain bola, sepakbola ini menjadi pintu bagi dakwah juga, bahkan kita ingin meahirkan pemain sepakbola profesional muslim kedepan. Pembinaanya bisa melalui Moslem Football Academy”

Hari ini, 25 juli 2020, dua kesebelasan dari Aceh Rayeuk, Sukamakmur FC (Aceh Besar) melawan Ulee Kareng FC (Banda Aceh) dapat menunjukkan kualitas permainannya, sama seperti delapan belas klub lainnya yang sudah bertanding selama sepekan ini. Semua mereka juara dan pemain-pemain yang sudah menampilkan skill-nya, tentunya akan dipanggil oleh tim seleksi, semoga mereka menjadi pemain professional dan generasi masa depan Aceh.

Mudah-mudahan semangat Gamper di Barcelona, semangatnya Haji Rusli Bintang di Lampoh Keude-Aceh, dan banyak lagi pemerhati bola lainnya dapat menjadikan sepakbola bukan hanya sebagai permainan olah raga, namun juga menjadi semangat silaturahim, persahabatan dan persaudaraan, dalam memajukan generasi muda menjadi generasi yang berguna bagi agama dan bangsa.

ADS_IMAGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here