Perempuan Aceh dan Narkotika

Karya : Yenni Sriwahyuni (Dosen Syariah dan Hukum UIN Ar Raniry

0
24
ADS_Area

Tulisan ini muncul dalam L300 perjalanan pulang kampung menjelang lebaran. Hari itu l300 tersebut berisi hampir setengah perempuan-perempuan dengan masing-masing membawa rantangan. Mereka rata-rata seusia namun ada dua orang perempuan yang berusia lebih 50 tahun.

Mendengar pembicaraan mereka ternyata tujuannya adalah sama “Penjara”. Hari ini memang “Meugang”pertama, hari yang sangat istimewa di Aceh. Keluarga kaya ataupun miskin, sedikit banyak tetap wajib membeli daging untuk disantap bersama keluarga, jika ada salah satu anggota keluarga yang tidak makan sie makmeugang maka terasa tidak sempurna makmeugang tersebut.

ADS_IMAGE

Lima perempuan dengan tujuan sama tersebut berasal dari berbagai daerah di Aceh Besar, dua diantaranya berstatus ibu dari terpidana, dan lainnya merupakan istri dari pesakitan. pancaran kekecawaan pada yang dikunjungi serta rindu tampak jelas di raut wajah mereka. Sepertinya mereka berasal dari golongan ekonomi lemah, tampak dari wajah lelah dan pakaian yang dikenakan. Hal yang sama dari kelima perempuan tersebut adalah sama-sama menjenguk narapidana kasus narkotika, sabee (sabu-sabu) dan bakong (ganja).

Ganja dan sabu-sabu memang merupakan jenis narkotika yang sangat terkenal di Aceh saat ini, hampir diseluruh wilayah Aceh kedua barang haram tersebut berhasil merusak banyak generasi muda dan keluarga di Aceh. Ganja memang bukan barang baru di sini, ganja Aceh bahkan telah mendunia dengan citarasa nomor wahid, demikian tulisan salah satu artikel dalam sebuah media. “pungo bakong” (gila ganja) adalah cerita lain yang juga sering terdengar dalam masyarakat Aceh akibat marijuana tersebut.

Lain lagi dengan sabu, walaupun bukan barang asli Aceh, namun keberadaannya telah mengalahkan pamor ganja dan membawa kemudaratan lebih parah dari ganja. Barang eksport dari luar Aceh tersebut untuk saat ini sangat berpengaruh dalam merusak generasi muda dan masyarakat Aceh.

Ada cerita lucu dan menyedihkan dari sabu ini. Diceritakan oleh seorang ibu rumah tangga, bahwa dirinya pernah sakit kepala dan menceritakan kepada temannya. Lalu Oleh teman tersebut menyarankannya untuk berobat kepada suaminya (suami teman yang diceritakan tersebut).

Ia mengatakan bahwa suaminya tiba-tiba bisa mengobati orang dengan “Ie rajah” (air putih yang telah didoakan) banyak orang yang telah berobat kepada suaminya dan sembuh. Ie rajah yang dibuat suaminya sangat manjur, bahkan saat ini dirinyapun sangat tergantung pada obat tradisional tersebut. Begitu diminum langsung tenang katanya meyakinkan.

Akan tetapi ibu yang sakit kepala yang berobat kepada suami temannya mendengar bahwa suami temannya tersebut ditangkap polisi karena menyimpan sabu-sabu. Selanjutnya disampaikan bahwa yang diterimanya sebagai obat “ie rajah”  tersebut merupakan campuran dari narkotika jenis sabu dan air mineral.

Lucu memang bagi yang mendengar cerita tersebut. Apalagi jika memikirkan orang-orang yang telah berobat dan minum “ie rajah” yang ternyata air sabu tersebut. Bagimana dengan istrinya yang awalnya sangat bangga kepada suaminya yang entah menerima wangsit dari mana tiba-tiba bisa manjadi “orang Pintar” dan hampir berhasil memperbaiki ekonomi mereka, tentu ia merasa sangat kecewa, malu, terhina dan terluka.

Ia, perempuan-perempuan lain dalam tulisan ini dan seluruh perempuan-perempuan Aceh lainnya korban sabu dan ganja sama terluka dan harus menerima tanggung jawab. selanjutnya baik mampu atau tidak mampu, mau atau tidak mau hidup menjadi pahlawan bagi keluarga maupun dirinya sendiri.

Perempuan Aceh memang hebat. Telah terkenal dari dahulu hingga saat ini, hanya saja saat ini banyak perempuan-perempuan Aceh yang memang memiliki darah pahlawan tersebut terpaksa menjadi pahlawan karena laki-lakinya berteman dengan narkotika. Sungguh ironi dan sebuah pilihan yang tidak indah bukan.

ADS_IMAGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here