Ketua MPR RI : utang Indonesia RP. 6.070 T, Itu Bukan Tujuan

0
105
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) bersama Ahmadi Noor Supit dan M Misbakhun. Foto: Humas MPR RI.
ADS_Area

JAKARTA – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) membahas seputar pertumbuhan utang luar negeri Indonesia bersama Ketua Umum SOKSI Ahmadi Noor Supit dan Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, dalam Podcast Ngobras sampai Ngompol (Ngobrol Asyik sampai Ngomong Politik) di kanal Youtube Bamsoet Channel.

Menurut penjelasan Misbakhun yang juga menjabat Sekjen SOKSI ini, berdasarkan data Bank Indonesia, per Juni 2020 utang luar negeri RI mencapai USD 408 milar atau setara Rp 6.070 triliun (dengan kurs per dollar sekitar Rp 14.844). Rinciannya,

ADS_IMAGE

Rinciannya, utang luar negeri RI itu berasal dari utang pemerintah dan Bank Indonesia sebesar USD 199,286 miliar, dan utang swasta sebesar USD 209,669 miliar.

“Misbakhun menekankan, utang bukanlah tujuan melainkan rangkaian proses untuk menyelesaikan berbagai persoalan,” kata Bamsoet usai bikin Podcast tersebut di Jakarta, Rabu (14/10).

Mantan ketua DPR ini menjelaskan, pandemi Covid-19 yang membuat dunia usaha lesu berakibat pada penurunan pemasukan negara dari sektor perpajakan. Sementara kebutuhan anggaran penanganan wabah tersebut sangat besar. Sehingga, tidak ada jalan lain bagi pemerintah kecuali menambah utang.

“Utang luar negeri bukanlah masalah, karena semua negara melakukannya. Bahkan negara sebesar Amerika dan China saja, keduanya juga memiliki utang luar negeri. Terpenting, pengelolaan utang harus dilakukan secara cermat dan hati-hati,” jelas Bamsoet.

Politikus yang juga kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan, dalam pandangan Ketua Umum SOKSI Ahmadi Noor Supit, secara teori Indonesia sudah masuk dalam krisis ekonomi. Namun krisis kali ini berbeda dibandingkan krisis ekonomi pada tahun 1998.

Krisis ekonomi 1998 disebabkan manajemen praktik perbankan yang tak sehat. Sementara saat ini, terjadi karena pandemi Covid-19. Krisis saat ini juga memberikan banyak pelajaran penting, salah satunya agar Indonesia tak lagi bergantung kepada impor.

“Krisis kali ini membuktikan bahwa saat terjadi kesulitan, bantuan terbesar bukan datang dari negara luar, melainkan dari saudara sebangsa sendiri,” ucap legislator Partai Golkar itu.

Bamsoet juga menerangkan, dalam penilaian Misbakhun, dengan skema defisit APBN 3 persen, recovery ekonomi Indonesia diprediksi terjadi pada tahun 2023. Selain itu, terungkap juga peluang ekonomi Indonesia dari logam rare earth atau yang dikenal dengan logam tanah jarang, yang diminati berbagai negara seperti Amerika.

ika dikelola dengan baik, kata Bamsoet, logam rare earth atau berbagai potensi ekonomi dari sumber daya alam lainnya bisa menambal beban utang luar negeri Indonesia.

“Misbakhun juga menekankan perlunya BUMN dengan set mencapai Rp 8.000 triliun, bekerja maksimal agar dapat memberikan banyak deviden bagi negara. Sehingga kedepannya Indonesia tak perlu lagi tergantung pada utang luar negeri,” jelas waketum KADIN Indonesia ini.

Selain membahas kondisi ekonomi, waketum Pemuda Pancasila ini juga membicarakan perjalanan organisasi SOKSI. Sebagai ketum yang baru terpilih dalam Munas XI SOKSI, Ahmadi Noor Supit bersama Misbakhun sebagai Sekjen akan berkonsentrasi terhadap berbagai dinamika kebangsaan.

Khususnya terhadap dampak pandemi pada kehidupan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Ahmadi Noor Supit menjelaskan, sebagai salah satu pendiri Partai Golkar, SOKSI punya tanggung jawab besar menyukseskan berbagai agenda perjuangan partai berlambang pohon beringin yang kini sedang dijalankan oleh berbagai kader yang menduduki jabatan publik.

“Ada Pak Airlangga sebagai Menko Perekonomian, Pak Agus Gumiwang sebagai Menteri Perindustrian, Pak Zainudin Amali sebagai Menpora, Pak Azis Syamsuddin sebagai Wakil Ketua DPR RI serta saya sebagai Ketua MPR RI,” pungkas Bamsoet.(jpnn)

 

ADS_IMAGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here