Ditampung di Medan, Oknum Rohingya Malah Bisnis Selundupkan Imigran

0
420
Foto: Tersangka kasus penyelundupan etnis Rohingya ke Aceh (Agus Setyadi-detikcom)
ADS_Area

Banda Aceh – Nelayan Aceh melihat kapal yang diduga membawa ratusan imigran Rohingya. Usut punya usut ternyata Imigran Rohingya itu sengaja diselundupkan ke Aceh.
Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh, Miftach Cut Adek menuturkan, nelayan melihat imigran di jarak sekitar 80-100 mil laut dari pantai Lhokseumawe. Mereka disebut sudah beberapa hari terpantau berlayar.

Miftach menduga tujuan utama imigran Rohingya itu adalah ke Malaysia. Namun, mereka diduga ditolak Malaysia.

ADS_IMAGE

“Geografis dan arus yang membuat mereka lebih mudah sampai di Lhokseumawe. Maka Kerajaan Pase adalah yang sangat strategis untuk pelayaran,” ujar Miftach, kepada wartawan, Senin (19/10/2020).

Sebelum nelayan melihat kapal diduga membawa ratusan imigran Rohingya, dua gelombang imigran Rohingya mendarat di Lhokseumawe dan Aceh Utara pada waktu berbeda. Pertama 94 imigran diselamatkan nelayan Aceh Utara, pada Rabu (24/6) lalu. Mereka kemudian dibawa ke lokasi penampungan.

Dari kejadian itu kini terungkap dugaan penyelundupan manusia terkait 99 orang imigran etnis Rohingya yang ditemukan terdampar di Aceh pada Juni 2020. Empat orang penyelundup ditangkap dan dua orang masih diburu.

Direskrimum Polda Aceh, Kombes Sony Sonjaya, mengatakan penyelundupan 99 imigran Rohingya pada Juni 2020 itu diduga dilakukan atas perintah seorang warga Rohingya yang ditampung di Medan, berinisial AR. AR disebut sudah berada di penampungan sejak 2011.

Salah satu aktor yang memberi perintah menjemput puluhan Rohingya tersebut adalah AR yang masih diburu polisi. Dalam kasus ini, AR juga melibatkan imigran Rohingya lain yaitu SD.

“Aktornya dari Medan. Dia tinggal di Medan di bawah akomodasi IOM,” ujar Sony, dalam konferensi pers di Mapolda Aceh, Selasa (27/10/2020).

AR diduga mengajak seorang warga Rohingya lain, SD, yang masuk ke Indonesia pada 2011 untuk mencari kapal. Mereka kemudian diduga menghubungi seorang warga Lhokseumawe, F, untuk mencari kapal yang bakal dipakai untuk menjemput warga Rohingya lainnya di tengah laut.

Dalam kesepakatan awal, imigran Rohingya yang bakal dijemput berjumlah 36 orang. AR, SB, dan F juga melahirkan kesepakatan dengan membuat surat perjanjian sewa kapal.

F kemudian mengajak AS dan R menjemput warga Rohingya dari kapal besar yang sudah menunggu di tengah laut. Mereka berkomunikasi menggunakan sandi khusus.

“Titik koordinat sudah diberikan oleh AR sehingga ketika kapal penjemput dan kapal besar di tengah laut menunggu, mereka memberikan sandi. Setelah itu, baru turun 99 warga Rohingya dari kapal besar tersebut ke kapal penjemput,” kata Sony.

Puluhan warga Rohingya itu akhirnya dijemput pada 22 Juni lalu. Tiga hari berselang, kapal penjemput rusak sehingga terapung di tengah laut. Kapal mereka selanjutnya diselamatkan oleh nelayan ke pesisir Pantai Lancok, Aceh Utara.

Sony menjelaskan, setelah melakukan penyelidikan, polisi akhirnya membekuk empat tersangka di sejumlah lokasi pada Kamis (22/10). Mereka adalah SD (warga Rohingya di Medan), AS, F, dan R.

“Kita masih memburu dua orang dalam kasus ini yaitu AR warga Rohingya yang memberi perintah dan AJ,” jelas Sony.

Dalam kasus ini AR sudah memberikan uang sewa kapal sebesar Rp 10 juta. Polisi masih menyelidiki besaran upah yang bakal diberikan untuk penjemput.

“Jadi terdamparnya Rohingya di Aceh bukan semata kemanusiaan. Di balik ini ada upaya menyelundupkan orang ke wilayah hukum Indonesia,” ujar Sony.

Polisi juga menciduk dua orang terkait penjemputan tiga warga Rohingya dari lokasi penampungan di Lhokseumawe. Ketiga imigran tersebut hendak dibawa ke Medan.

“Berinisial P dan satu lagi S warga Rohingya di Medan,” ujar Sony.

Sony mengatakan S memerintah P untuk menjemput tiga warga Rohingya. Namun aksi tersebut kepergok petugas sehingga P ditangkap pada Selasa (13/10) lalu. Lalu S ditangkap di Medan.

Sony menjelaskan, kedatangan 99 Rohingya ke Aceh Utara itu memang sudah dikondisikan dengan melibatkan tersangka dari Lhokseumawe. Sony menjelaskan ada satu dari 99 imigran Rohingya yang diduga diselundupkan ke Aceh sudah dibawa ke luar negeri dan kini ada di Malaysia.

Pihak kepolisian sudah berkoordinasi dengan kepolisian Malaysia untuk menyelidiki dugaan penyelundupan imigran Rohingya ke Malaysia. Polisi juga masih menyelidiki proses ‘manusia perahu’ tersebut tiba di Negeri Jiran.

“Kami juga sempat berkomunikasi dengan atase kepolisian di Malaysia untuk melakukan penyelidikan orang ini sampai ke Malaysia bagaimana caranya,” jelas Sony.

Sony menjelaskan, imigran Rohingya tiba di Aceh dalam dua gelombang. Pertama, 99 orang yang diduga diselundupkan pada Juni lalu, dan gelombang kedua berjumlah 297 orang tiba September lalu.

Imigran gelombang kedua tersebut diketahui sudah berada di bibir pantai Pantai Ujong Blang, Lhokseumawe pada Senin (7/9) sekitar pukul 00.30 WIB. Warga Rohingya tersebut selanjutnya ditampung di BLK Lhokseumawe bersama 99 imigran Rohingya lainnya.
“Salah satu warga Rohingya di Medan berinisial S kemudian memerintahkan seorang perempuan berinisial P untuk menjemput tiga Rohingya gelombang kedua,” jelas Sony.

Upaya membawa kabur tiga Rohingya dari BLK Lhokseumawe pun gagal. P ditangkap petugas pada Rabu (13/10) lalu. Dia lalu mengaku menjemput ketiga imigran tersebut atas suruhan S.

“S yang menyuruh itu etnis Rohingya yang sudah berada di Medan sejak 2011. Menurut informasi, ketiga Rohingya yang dijemput tersebut hendak dibawa ke Malaysia,” ujar Sony.(detik.com)

ADS_IMAGE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here