Kadisdikbud Aceh Besar, Dr Silahuddin MAg: Berbahasa Aceh di lingkungan sekolah Disambut Baik

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Aceh Besar, Dr Silahuddin Mag. Foto : Humas Disdikbud Aceh Besar

ACEHAKTUAL.COM I Aceh Besar – Kebijakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Besar penggunaan Bahasa Aceh sebagai bahasa komunikasi lisan di lingkungan sekolah, mulai tingkat TK, SD, dan SMP. Di sambut baik oleh guru dan wali murid.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Aceh Besar, Dr Silahuddin Mag kepada acehaktual.com, Senin (8/2/2021) mengatakan kebijakan Bupati Aceh Besar, Ir. Mawardi sangatlah lah tepat dalam menjaga adat da istiadat orang Aceh.

Seperti diketahui Bupati Aceh Besar, Ir Mawardi mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 061/046 tentang penggunaan Bahasa Aceh sebagai bahasa komunikasi lisan di lingkungan Pemkab Aceh Besar setiap hari Kamis.

Lalu Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Aceh Besar telah mengeluarkan surat edaran Nomor 800/87/2021 tanggal 1 Februari 2021 tentang penggunaan Bahasa Aceh sebagai bahasa komunikasi lisan di lingkungan sekolah, mulai tingkat TK, SD, dan SMP.

“Pelajar tingkat TK, SD, dan SMP kita wajibkan berbahasa Aceh sebagai bahasa komunikasi lisan di lingkungan sekolah setiap hari kamis,” ujar Silahuddin.

Menurut mantan aktifis mahawasiswa Aceh Besar ini, dengan edaran tersebut, ada kepala sekolah yang menggunakan baju adat Aceh saat mengajar setiap hari kamis.

“Bahkan ada wali murid menyerahkan buku yang beri nazam-nazam Aceh ke pihak sekolah agar bisa di ajarkan kepada siswa,” ujar Islahuddin.

Kepala SD 1 Peukan Bada, Aceh Besar ketika mengajar di pada hari Kamis sebagaimana anjuran Bupati Aceh Besar, selalu memakai pakai ada Aceh. Foto : Istimewa.

Bahkan, di sekolah ketika tiba pada hari Kamis, mareka saling mengingatkan satu sama lainn,”hai uronyo uro hameh, jak ta peugah haba lam bahasa aceh,” ( hai, kan hari ini hari kamis, yok kita bicara dalam bahasa Aceh,” jelas.

Selain itu, pihaknya memberikan kebebeasan kepada guru untuk mendukung suksesnya “selalu berbahasa Aceh” dengan metode yang sesuai dengan kepanpuan para guru, sebelum adanya kurikulum tetntang itu.

“Silakan kepada guru-guru setiap hari kamis diajarkan, misalnya nazam-nazam Aceh, pidato bahasa Aceh, tarian Aceh seperti seudati, likok pulo ataupun dalail khairat, “ terangnya.

Seminggu setelah edaran tersebut, kata Silahuddin, ada anak-anak yang mambawa kamus bahasa Aceh utnuk memperkaya kosa kata bahasa Aceh. Mungkin selama ini, bahasa Aceh jarang mareka gunakan di sekolah.

Dengan adanya surat edaran terserebut, Disdikbud Aceh Besar akan mengawal surat edaran bupati sebagaimana ungkapan Sultan Iskandar Muda saat raja Aceh tersebut menjaga hukum dan adat Aceh.

“Mate aneuk meuat jirat, Mate adat pat tamita.”

Mate aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita?” Begitulah ungkapan Sultan Iskandar Muda sebelum dirinya memancung Meurah Pupok, anaknya sendiri Penegakan hukum tanpa pandang bulu itu sejatinya adalah pesan Sultan Iskandar Muda kepada rakyatnya, atau orang Aceh, bahwa adat di atas segalanya.

Pepatah diatas tadi memiliki arti dalam bahasa Indonesia yaitu, mati anak ada kuburan, mati adat dimana kita cari. Maksud mati adat disini bermakna hilang. Kalau adat orang Aceh itu sendiri sudah hilang dari kehidupan dalam bermasyarakatnya, dimana kita dapat menemukannya lagi.?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here